Iswahyuni
Bogor Agricultural University

Pertanian Karawang (Tugas MPKMB 48)

August 7th 2011 in General

Pertanian Karawang

Karawang sudah sejak lama dikenal sebagai lumbung beras, sebagai sebuah daerah yang memiliki lahan pertanian yang luas serta dukungan landscape geografis yang landai, maka Kota Karawang merupakan kota penghasil beras yang cukup terkenal pada masanya. Meskipun demikian pada saat lahan pertanian mulai berkurang dan berubah menjadi kota buruh, Karawang masih menjadi acuan sebagai lumbung beras dan penghasil beras organik yang memiliki kualitas yang sangat baik.

Kondisi pertanian di Karawang tahun 2011 ini tergolong baik, tidak seperti masa tanam 2010 lalu, dimana pertanian diganggu oleh serangan hama wereng yang menghabiskan tanaman padi. Untuk masa tanam kali ini diyakini relatif aman dari hama, dan hasil pertanian akan lebih bagus dari hasil panen tahun lalu.

Menurut info yang saya dapatkan dari koran Radar Karawang. Kabid program dan evaluasi Unit Pelayanan Teknis (UPT) direktorat tanaman pangan dan holtikultura, Balonggandu, Jatisari, Ir Firdaus Natanegara mengatakan bahwa kondisi cuaca saat ini sudah membaik, tidak seperti musim lalu. Hal tersebut berimbas positif pada kondisi pertanian di Karawang. Selain itu upaya pemotongan siklus yang dilakukan pada musim lalu juga berdampak positif mengenai kondisi pertanian saat ini, sehingga musim ini hama relatif aman. Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pertanian di daerah Indramayu dan sekitarnya. Tetapi walaupun kondisi pertanian cukup bagus, dia menghimbau agar petani untuk tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan. Yang paling ditekankannya, petani diminta untuk tetap menjaga pola tanam, padi, padi palawija.

Beras di Karawang cukup terkenal kualitasnya. Salah satu produk unggul yang sehat dari pertaniannya adalah beras organik. Beras Organik yang baik dihasilkan dari PADI ORGANIK yang merupakan hasil budidaya pertanian organik. Padi organik bukan sekedar padi biasa, tetapi ia diolah dan dibudidayakan melalui pendekatan organik. Jika budidaya padi masih menggunakan asupan kesuburan sintetis, atau campuran antara sintetis dan organik, maka yang demikian bukan budidaya pertanian organik. Tetapi pada kenyataannya, Pertanian organik atau full organik selama ini lebih kental dalam tahap wacana ketimbang praktek, hambatannya terutama pola pikir, kebiasaan, kebijakan dan birokrasi menjadi penyebab tidak berjalanannya secara merata pertanian organik khususnya di Indonesia. Lalu bagaimana dengan di Karawang? Sebuah kabupaten yang memiliki julukan lumbung beras Jawa Barat dan bahkan Indonesia? Kenyataanya pertanian di Karawang masih didominasi pertanian non-organik dengan ketergantungan pada pupuk kimia. Apabila pola pikir mereka bisa diubah padahal banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari pertanian organik ini, antar lain:
○ Petani akan menjalankan sesuatu yang benar-benar lebih asyik. Melihat cacing-
cacing bekerja menggemburkan lahan tanpa nanti tergantung pada alat berat
seperti traktor, menyaring air irigasi dengan eceng sebagai biofilter dsb. Secara
ongkos produksi, pertanian organik jelas lebih murah. Anda bayangkan, harga
pupuk atau racun pestisida sekarang menjadi beban yang sungguh mencekik
petani,belum lagi permainan tukang pupuk yang selalu mengakibatkan adanya
kelangkaan pupuk dsb. Dengan membuat sendiri pupuk dan senjata pembunuh
hama misalnya dari air kencing, maka jelas ongkosnya lebih murah. Memang,
dipasaran Produsen Pupuk tidak  kalah sigapnya dengan membuat produk
pupuk organik, tapi apakah pupuk tersebut benar-benar organik? Masih layak
dipertanyakan. Tentu alangkah lebih baik, jika petani sendiri yang membuat
pupuk.
○   Kesuburan lahan akan tetap terjaga karena tidak dikotori bahan kimia
○   Hasil panen bisa lebih banyak dibanding pertanian non-organik
○  Produk pertanian (padi/beras) jelas lebih berhasabat dengan perut manusia yang
memakannya, lebih sehat tentunya karena tidak mengandung zat kimia atau
pestisida.
○   dll

Oleh: Iswahyuni
H14110040


Comments are closed.


BADGE
IPB Badge